This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 29 September 2012

IKHTIYAR MEMILIKI ANAK SHALEH DAN SHALIHAH


IKHTIYAR MEMILIKI ANAK SHALEH DAN SHALIHAH
(Perspektif Pendidikan Islam)




BAB I
PENDAHULUAN


1.        KATA PENGANTAR
Pendidikan lebih dari pada sekedar pengajaran. Kalau pengajaran dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, namun pendidikan merupakan transpormasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Dengan demikian, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan “Tukang-tukang” atau para spesialis yang lebih bersifat tekhnis. Perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadappembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik disamping transfer ilmu dan keahlian.[1]
Anak adalah amanat bagi orang tua, hatinya yang suci bagaikan mutiara yang bagus dan bersih dari setiap kotoran dan goresan.[2]  Anak merupakan anugerah dan amanah dari Allah kepada manusia yang menjadi orang tuanya. Oleh karena itu orang tua dan masyarakat bertanggungjawab penuh agar supaya anak dapat tumbuh dan berkembang manjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya sesuai dengan tujuan dan kehendak Tuhan.
Anak sebagai amanah dari Allah, membentuk tiga dimensi hubungan, dengan orang tua sebagai sentralnya. Pertama, hubungan kedua orang tuanya dengan Allah yang dilatarbelakangi adanya anak. Kedua, hubungan anak (yang masih memerlukan banyak bimbingan) dengan Allah melalui orang tuanya. Ketiga, hubungan anak dengan kedua orang tuanya di bawah bimbingan dan tuntunan dari Allah.[3]
Dalam mengemban amanat dari Allah yang mulia ini, berupa anak yang fitrah beragama tauhidnya harus dibina dan dikembangkan, maka orang tua harus menjadikan agama Islam, sebagai dasar untuk pembinaan dan pendidikan anak, agar menjadi manusia yang bertaqwa dan selalu hidup di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT., dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun juga keadaannya, pribadinya sebagai manusia yang taat beragama tidak berubah dan tidak mudah goyah
                               

BAB II
PEMBAHASAN

A.    CIRI ANAK SHALEH SHALIHAH
Mengenai ciri-ciri anak yang shaleh dan shalihah antara lain:
1)   Bertaqwa kepada Allah (Beriman kepada Allah dan Rasulnya, menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Allah).
2)   Berbakti kepada orang tua dengan berbuat baik pada saat orang tua masih hidup dan mendoakan orang tua pada saat sudah mrninggal dan menyambung silaturahmi dengan sodara dan teman-teman dari orang tua.
3)   Mempunyai wawasan keagamaan yang luas.
4)   Mempunyai ahlak yang baik kepada sesama manusia, dan berahklak baik pada lingkungan sosial.
B.     PROSES PENDIDIKAN
a)   Metode Dalam Pendidikan Islam
Metode dalam pendidikan islam (Umum dan Agama Islam) mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang diciptakan bersama. Karena itu metode menjadi sebuah sarana yang bermakna dalam menyajikan pelajaran, sehingga dapat membantu siswa memahami bahan-bahan pelajaran untuk mereka. Arifin Muzayin.[4] mengingatkan, bahwa tanpa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat memproses secara efisien dan efektik dalam pendidikan.
Ada beberapa metode dalam melaksanakan pendidikan islam, setidaknya ada 15 metode, yaitu : ceramah, tanya jawab, mengambil pelajaran, mengkongkritkan masalah, penugasan, peragaan, diskusi, mmemberi perumpamaan, kunjungan ilmiah, korespondensi, hafalan, memberi pemahaman, memberikan pengalaman, mempermudah, dan mengembirakan.[5] Arifin Muzain, membagi metode-metode pendidikan Islam menjadi 16 macam, yaitu : berfikir, induktif deduktif, praktik, jihad, situasional, kelompok, intruksional, cerita, bimbingan, dan penyuluhan, pemberian contoh dan teladan, diskusi, soal-jawab, imstal, khitbah, targhib dan tarhieb, dan acquistion selaf education, serta taubat dan ampunan.[6]
Dari dua teori diatas tampaknya metode-metode pendidikan islam cukup banyak, namun dalam keragaman metode tersebut antara yang satu dengan yang lainnya memiliki kesamaan. Jika dikombinasikan berdasarkan dua teori diatas, maka metode-metode pendidikan Islam dan dibagi kedalam 11 macam, sesuai dengan metode-metode tersebut adalah :
Metode ceramah adalah cara penyampaian materi pendidikan melalui komunikasi satu arah yaitu dari pendidik kepada peserta didik (one way traffic comunication). Metode ini agak identik dengan tausiyah (memberi nasihat), dan khutbah.
Metode soal jawab adalah dengan cara, satu pihak memberikan pertanyaan sementara piahak lainnya memberikan jawaban. Dalam pengajaran, guru dan atau peserta didik dapat memberikan pertanyaan ataupun jawaban.
Metode I’tibar adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara mengambil pelajaran, hikmah, dan pengartian dari sebuah peristiwa dan atau kisah yang terjadi. Biasanya metode ini terkait dengan penyampaian metode Cerita atau Ceramah.
Metode Resitasi adalah metode pendidikan dengan pemberian tugas. Biasanya metode ini terdiri dari tugas individu dan kerja kelompok. Metode ini dimaksudkan agar proses mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan lebih efektif.
Metode diskusi adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara bertukar pikiran, pendapat dengan menetapkan pengertian dan sikap terhadap suatu masalah. Dengan metode ini peserta didik akan mencapai titik kebenaran.
Metode tamsiliyah adalah cara memberikan perumpamaan kepada yang lebih faktual. Pendidikan dengan metode ini dapat memberikan pelajaran-pelajaran berharga dari perumpamaan-perumpamaan kepada peserta didik.
Metode mukatabah adalah pendidikan dengan cara korespondensi atau membuat surat-menyurat dalam berbagai tema (bahan pelajaran). Dengan metode ini hasil pengajaran yang disampaikan oleh pendidik akan lebih berkesan dan terkumpul dalam tulisan.
Metode tafhim adalah pendidikan dengan cara memahami apa-apa yang telah diperoleh dari belajar sendiri atau dengan  guru pendidik. Dengan metode ini peserta didik dituntut untuk lebih aktif mendapatkan makna secara mendalam terhadap bahan yang diterimanya.
Metode cerita adalah pendidikan dengan membacakan sebuah cerita yang mengandung pelajaran baik. Dengan metode ini peserta didik dapat menyimak kisah-kisah yang diceritakan oleh guru, kemudian mengambil pelajaran dari cerita tersebut.
Metode pemberitahuan contoh dan tauladan adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara memberikan contoh-contoh yang baik (uswahtun al-hasanah) berupa prilaku nyata, khususnya ibadah dan akhlak. Contoh tauladan ini merupakan pendidikan yang mengandung nilai paradadogis tinggi bagi peserta didik.
Metode aquistion atau self education adalah metode pendidikan diri sendiri. Pendidikan dengan metode Self Education dilakukan dengan memberikan dorongan agar peserta didik dapat belajar dan membina diri mereka sendiri, setelah itu barulah dapat membina orang lainnya.
Berdasarkan dari penjelasan diatas jelaslah bahwa pentingnya metode dalam pendidikan. Karena dalam melakukan kegiatan belajar mengajar seorang guru menjalankan metode pembelajaran yang beraneka ragam akan membuat sarana kelas menjadi baik dan kelangsungan pembelajaran menjadi nyaman. Khususnya dalam pendidikan Islam

b)   Pendekatan Dalam Pendidikan Islam
Pendekatan berarti proses, perbuatan, dan cara mendekati.[7] Dari pengertian ini pendekatan pendidikan' dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati dan mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. Selain metode-metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam, pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan, terutama proses belajar mengajar.
Pendekatan pendidikan Islam yang seharusnya dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik adalah meliputi:
1.      Pendekatan Psikologis. Yang tekanannya diutamakan pada dorongan-dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakan daya kognitif (mencipta hal-hal baru), konatif (daya untuk berkemauan keras), dan afektif (kemampuan yang menggerakkan daya emosional). Ketiga daya psikis tersebut dikembangkan dalam ruang lingkup penghayatan dan pengamalan ajaran agama di mana faktor-faktor pembentukan kepribadian yang berproses melalui individualisasi dan sosialisasi bagi hidup dan kehidupannya menjadi titik sentral perkembangannya.
2.      Pendekatan sosial-kultural: yang ditekankan pada usaha pengembangan sikap pribadi dan sosial sesuai dengan tuntutan masyarakat, yang berorientasi kepada kebutuhan hidup yang semakin maju dalam berbudaya dan berperadaban. Hal ini banyak menyentuh permasalahan-permasalahan inovasi ke arah sikap hidup yang alloplastis (bersifat membentuk lingkungan sesuai dengan ide kebudayaan modern yang dimilikinya), bukannya bersifat auto plastis (hanya sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada)
3.      Pendekatan Religik. Yakni suatu pendekatan yang membawa keyakinan (aqidah) dan keimanan dalam pribadi anak didik yang cenderung ke arah komprehensif intensif dan ekstensif (mendalam dan meluas). Pandangan yang demikian, terpancar dari sikap bahwa segala, ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya adalah mengandung nilai-nilai ke-Tuhanan. Sikap yang demikian harus di internalisasikan (dibentuk dalam pribadi) dan di eksternalisasikan (dibentuk dalam kehidupan di luar diri pribadinya.
4.      Pendekatan historis, yang ditekankan pada usaha pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai keagamaan melalui proses kesejarahan. Dalam hubungan ini penyajian serta faktor waktu secara kronologis menjadi titik tolak yang dipertimbangkan dan demikian pula faktor keteladanan merupakan proses identifikasi dalam rangka mendorong penghayatan dan pengamalan agama.
5.      Pendekatan komparatif. Yaitu pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan suatu gejala sosial keagamaan dengan hukum agama yang ditetapkan selaras dengan siatuasi dan zamannya. Pendekatan komparatif ini sering diwujudkan dalam bentuk komparatif  studi, baik di bidang hukum agama maupun j uga antara hukum agama itu sendiri dengan hukum lain yang berjalan, seperti hukum adat, hukum pidana/perdata, dan lain-lain.
6.      Pendekatan filosofis. Yaitu pendekatan yang berdasarkan tinjauan atau pandangan falsafah. Pendekatan demikian cenderung kepada usaha mencapai kebenaran dengan memakai akal atau rasio. Pendekatan filosofis sering dipergunakan sekaligus dengan pola berpikir yang rasional dan membandingkan dengan pendapat-pendapat para ahli filsafat dari berbagai kurun zaman tertentu beserta aliran filsafatnya.
Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar. Sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan lebih bisa menunjukkan keberhasilan pendidikan anak didik yang berdasarkan Skill yang dimilikinya.
c)    Pendidikan Dalam Keluarga
يا أيهاالذين أمنوا قوا انفسكم وأهليكم نارا.
Artinya: jagalah diri kalian dan keluargakalian dari panasnya api neraka
.

Muhammad Nur Hafidz merumuskan empat pola dasardalam bukunya. Pertama, senantiasa membacakan kalimat Tauhid padaanaknya. Kedua, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.Ketiga, mengajarkan al-Qur’an dan keempat menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan.
Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalammasyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangkamenanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilakuyang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga danmasyarakat. Dalam buku TheNational Studi on Family Strength,Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu:
a)      Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
b)      Tersedianya waktu untuk bersama keluarga
c)      Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak
d)     Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak
e)      Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi
Ada tiga hal yang harus secara serius dan konsisten  diajarkan kepada anak didik. [8]
1.          Pendidikan akidah/keimanan.Ini merupakan hal yang sangat penting untuk mencetak generasi muda masa depan yang tangguh dalam imtaq (iman dan taqwa)  dan terhindar dari aliran atau perbuatan yang menyesatkan kaum remaja seperti gerakan Islam radikal, penyalagunaan narkoba, tawuran dan pergaulan bebas (freesex) yang akhir-akhir ini sangat dikhawatirkan oleh sejumlah kalangan.
2.         Pendidikan ibadah. Ini merupakan hal yang sangat penting untuk  diajarkan kepada anak-anak kita untuk membangun generasi muda yang punya komitmen dan terbiasa melaksanakan ibadah. Seperti shalat, puasa, membaca al-Quran yang saat ini hanya dilakukan oleh minoritas generasi muda kita.
3.         Pendidikan akhlakul-karimah. Hal ini juga harus mendapat perhatian besar  dari para orang tua dan para pendidik baik lingkungan sekolah maupun di luar sekolah (keluarga). Dengan pendidikan akhlakul-karimah akan melahirkan generasi rabbani, atau generasi yang bertaqwa, cerdas dan berakhlak mulia
d)   Pembinaan Akidah dan Akhlak
Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominan adalah seorang anak dengan dasar-dasar keimanan, ke-Islaman, sejakmulai mengerti dan dapat memahami sesuatu, maka al-Ghazali memberikanbeberapa metode dalam rangka menanamkan aqidah dan keimanan dengancara memberikan hafalan. Sebab kita tahu bahwa proses pemahaman diawali dengan hafalan terlebih dahulu.
Penanaman akidah sejak dini telah dijelaskandalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 132 yang Artinya: Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapankepada anak-anaknya, demikian juga Ya’kub. Ibrahim berkata: haianak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, makajanganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.
Ketika mau menghafalkan dan kemudian memahaminya, akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan dan pada akhirnya membenarkan apa yang diayakini. Inilah proses yang dialami anak pada umumnya. Bukankah mereka atau anak-anak kita adalah tanggungjawab kita sebagaimana yang telah Allah peringatkan dalam al-Qur’an yang berbunyi:
Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan pembinaan akhlak anak.Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antaraibu, bapak dan masyarakat. Dalam hal ini Benjamin Spock menyatakanbahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikanteladan ataupun idola bagi mereka.
e)    Pembinaan Intelektual
Pembinaan intelektual dalam keluarga memgangperanan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baikintelektual, spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitasakan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah sebagaimanafirman-Nya dalam surat al-Mujadalah yang berbunyi:
يرفعالله الذين آمنوا منكم والذين أوتواالعلمدرجات
Artinya: Allah akan mengangkat derajatorang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu diantarakalian.
Nabi Muhammad juga mewajibkan kepada pengikutnya untuk selalu mencari ilmu sampai kapanpun sebagaimana sabda beliau yang berbunyi:
على كل مسلم ومسلمة طلبالعلم فريضة
Artinya: Mencari ilmu adalah kewajiban bagi muslim dan muslimat.
f)    Pembinaan Kepribadian dan Sosial
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatarbelakanginya. Mengingat hal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat menjaga emosional diri dan jiwa seseorang. Dalam hal yang baik ini adanyaKewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi support kepribadian yang baik bagi anak didik yang relative masih muda dan belum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berprilaku sopan santun dalam bersosial dengan sesamanya. Untuk memulainya, orang tua bisa dengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orang tua agar kelak sianak dapat menghormati orang yang lebih tua darinya.

BAB III
KESIMPULAN

Kunci keberhasilan pendidikan dalam keluarga sebenarnya terletak pada pendidikan Rohani dengan artian keagamaan seseorang. Beberapa hal yang memegang peranan penting dalam membentuk pandangan hidup seseorang meliputi pembinaan akidah, akhlak, keilmuandan kreativitas yang mereka miliki.
Sedangkan pendidikan dalam keluarga itu sendiri secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a)      Pembinaan akidah dan akhlak
b)      Pembinaan intelektual
c)      Pembinaan kepribadian dan sosial
Dari pembinaan agama yang kuat diharapkan nilai-nilai Agama mampu diingat sebagai doktrin yang tidak akan hilang sampai kapanpun, dengan demikian cita-cita menjadikan anak sebagai anak yang shaleh dan shalihah besar kemungkinan bisa tercapai.
Wallahu A’lam Bisowaf
DAFTAR PUSTAKA

Ayzumardi azra, pendidikan Islam (tradisi dan modernisasi menuju Milenium baru) ciputat : Logos, 2000.
Arifin Muzain, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) jakarta : Bumi Askara, 1991.
Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, Semarang: Dina Utama, 1993.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1999.
Imam Ahmad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Juz VII, Beirut: Dar al-Fikr, 1980.
Saiful Bahri djamarah dan Aswan zain, Starategi Belajar Mengajar, Jakarta : renika Cipta,  1995.


[1] Ayzumardi azra, pendidikan Islam (tradisi dan modernisasi menuju Milenium baru) ciputat : Logos, 2000, hlm. 3-4.
[2] Imam Ahmad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), hlm. 130.
[3] Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang: Dina Utama, 1993), hlm. 5.
[4] Arifin Muzain, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) jakarta : Bumi Askara, 1991, h. 97
[5] Syaiful Bahri djamarah dan Aswan zain, Starategi Belajar Mengajar, Jakarta : renika Cipta,  1995, h. 253
[6] Arifin Muzain, Ilmu Pendidikan  Islam,op. cit, h 65-80.
[7] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1999, h. 218

Senin, 17 September 2012

Senin, 28 Mei 2012

SARAN DAN KRITIK BAGI UMAR BIN KHOTOB


SARAN DAN KRITIK BAGI UMAR BIN KHOTOB

1.                   Saran dan kritik bagi Amirul Mu’minin Umar Bin Khotob adalah dasar hukum yang benar, dari itu dia hampir tidak menemui perbedaan. Dia mendengar pembicaraan orang dengan kerasnya sehingga dia menyendiri dan terus melamun dan berfikir. Dan Khudaifah salah satu dari sahabat Umar menemuinya, dan dia menemukan Umar dalam keadaan bersedih dan menangis. Maka Khudaifah bertanya kepadanya : (( apa yang terjadi wahai Amirul Mukminin?)), Umar pun menjawab : (( sungguh saya takut melakukan kesalahan, sehingga salah satu dari kalian tidak lagi menghormati saya)), Khudaifah berkata : ((Demi Allah, ketika kami melihat Engkau keluar dari haq/kebenaran, maka kami akan meluruskannya kembali)), maka Umar bahagia dan berkata : ((segala puji bagi Allah yang telah menjadikan sahabat-sahabat bagiku yang mau meluruskanku ketika saya melenceng dari kebenaran)).

2.                   Dan suatu hari Umar Bin Khotob naik ke mimbar untuk membicarakan masalah yang penting, maka Umar memulai hutbahnya dengan memuji Allah sambil berkata : ((dengarkanlah kalian semua maka Allah menyayangi kalian)), akan tetapi salah satu dari muslimin bangkit/berdiri dan berkata : ((Demi Allah kita tidak mendengar……… Demi Allah kita tidak mendengar………..)), maka Umar bertanya kepadanya dengan tenang : (( kenapa ya Sulaiman?)), Sulaiman menjawab : ((Engkau membeda-bedakan dirimu dengan kita tentang masalah dunia, engkau memberikan  satu pakaian terhadap kita dan Engkau sendiri dua pakaian)). Maka Kholifah melihat barisan-barisan manusia kemudian dia berkata : ((dimana Abdullah Bin Umar?)). Maka Abdullah Bin Umar Berdiri ((Saya disini ya amirul mukminin)), maka Umar berkata kepadanya : (( siapa yang mempunyai dua pakaian?)), maka Abdullah menjawab : ((saya ya amirul mukminin)) dan Umar berbicara kepada Salman dan manusia yang ada bersamanya. dan berkata : (( sesungguhnya seperti yang  kalian ketahui saya adalah lelaki yang tinggi, dan kenapa pakaian saya kecil, maka Abdullah memberikan pakaiannya kepadaku kemudian saya menyambung pakaianku)) maka Salman berkata dan dimatanya terlihat air mata bahagia : ((Alhamdulillah……dan sekarang katakanlah : kita mendengar, kita taat ya amirul mukminin).




3.                   Kalimat luhur/kalimat utama bagi Umar Bin Khotob adalah untuk kebenaran, apa bila dia menghukumi suatu hukum dan sahabatnya menentangnya dan berkata kepada Kholifah yang adil : ((seyogyanya orang lain yang menghukumi antara saya dan kamu)). Maka Umar pun tidak marah dan tidak menolak akan tetapi dia menyambut dengan bahagia karena dia akan menemukan pertolongan atas kebenaran jika kebenaran/haq bersamanya, dan mendapat petunjuk pada kebenaran jikalau berbuat salah dan orang yang menentang meninggalkannya dan memilih orang yang ingin diajak berangkat berdua dan menghukumi diantara keduanya.

4.                    Suatu hari dia bertemu dengan shohabat Abbas dan dia berkata kepadanya : ((sungguh saya telah mendengar Rosulullah sebelum meninggal, beliau ingin menambah pekarangan masjid, Rumahmu dekat dengan masjid maka berikanlah rumahmu kepada kami, maka kami akan menambahkannya dan kamu akan diberikan yang lebih luas dari pada rumah kamu tadi)) maka Abbas pada Rosul : ((jangan lakukan)), dan Umar berkata : ((jadi saya ambil dengan paksa/ saya ambil dengan kekuatan)), Abbas menjawab : ((kamu bukanlah seperti ini, datangkanlah diantara kita orang yang menghukumi dengan haq)), Amirul mukminin berkata : ((siapa yang kamu pilih)) Abbas menjawab : ((Khudaifah Bin Yamamah)), maka Umar dan Abbas pergi ketempat Khudaifah, dan mereka berdua duduk didepannya dan menceritakan apa yang menjadi perbedaan keduanya dan mereka berdua meminta Khudaifah menjadi hakimnya)).


5.                   Khudaifah berkata : saya telah mendengar bahwa Nabiullah Daud dan sebagian muridnya, mereka ingin menambah Baitil Muqoddas, dan mereka menemukan satu rumah didekat masjid dan rumah itu milik dari anak yatim, Nabi Daud dan muridnya meminta rumah anak yatim tersebut dan anak yatim tadi menolaknya. Dan nabi Daud ingin mengambil denagn paksa, maka Allah menurunkan wahyu kepada Daud : (( sesungguhnya rumah yang paling jauh dari kedholiman adalah rumahku)) maka Nabi Daud tidak lagi memintanya dan meninggalkan rumah tadi pada pemiliknya. Abbas melihat pada Umar dan berkata : (( masihkah kamu ingin mengambil paksa rumahku?)) Umar berkata : ((tidak)) Abbas berkata : ((dan dengan ini – saya memberikan rumahku kepadamu sehingga kamu menambahnya untuk masjid Rosulullah)).

6.                   Ini adalah kebesaran Umar, kebesaran orang yang mengajak pada kasih sayang bagi orang yang diberi petunjuk ketika dia melakukan kesalahan, bagi orang yang mengatakan padanya ((tidak……ya Umar …………ingatlah Allah menghidupkan/mengangkat Amirul mukminin………….dan menghormati dengan baik bagi agama yang dirajainya)).

BAKSUL KUTUB


توسيع آفاق الناشئ وزيادة خبراته بنقل التراث
Memperluas Cakrawala Para Pemuda Dan Menambah/Meningkatkan Pengalaman-Pengalaman Mereka Dengan Mentransfer Warisan
لا تكتفى المدرسة بتنمية خبراته الناشئ الناجمة عن احتكاكه بالبيئة فى المواقف التى تضطره ظروفه اليها، بل تكسبه خبرات من تجارب أجيال الإنسانية الماضية التى سبقته، منذ قرون طويلة، وحبرات من تجارب الأمم الأخرى المعاصرة.
Tidaklah cukup bagi lembaga sekolah dengan hanya meningkatkan/mengembangkan pengalaman para pemuda/remaja dengan lingkungan saja , dalam situasi di mana keadaan memaksanya untuk itu, tapi juga mendapatkan pengalaman dari generasi masa lalu umat manusia yang mendahuluinya, sejak berabad-abad, dan pengalaman kontemporer dari umat-umat masa kini yang lainnya.
وهذا ما يسميه بعض علماء التربية وظيفة (نقل التراث) ويمكن أن يسمى فى التربسة الإسلامية بـ(إحياء التراث) والوراثة فى اللغة،  وانتقال الثروة من السلف إلى الخلف، ويطلق ذلك  على الثروات الفكرية والمعانى الدينية والكتب السماوية قال سبحانه ...
Dan inilah sebagian sarjana pendidikan menamakannya dengan tugas (Transfer Warisan) dan mungkin juga mereka menamakannya dalam pendidikan islam dengan sebutan (hidupnya warisan) dalam bahasa, mentransfer kekayaan dari generasi lama kepada generasi kini (generasi sekarang), itu semua dinamakan dengan kekayaan intelektual, makna-makna keagamaan dan kitab-kitab samawi. Allah SWT berfirman :
( فخلف من بعدهم  خلفٌ ورثوا  الكتابَ) [ الأعراف : 169]
Maka setelah mereka datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi taurat….(Q.S. al A’rof : 169)
وقال تعالى ( ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا) [ الفاطر : 32]
Allah berfirman : kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orangyang kami pilih diantara hamba-hamba kami………
والحرص على التراث الفكرى والثقافى أمر فى غاية الأهمية لأنه ينقل إلينا خبرات عظيمة، طالما انقضت أعمال الأجيال وجهودها فى تحصيلها، وهي ثمرات إبداع الأسلاف وحضارتهم ومخترعاتهم وأبحاثهم العلمية والكتشافاتهم، ولكن ضخامة هذا التراث واندثار القديم منه، وتغير كثير من الظروف والأحوال والعقيدة يجعل من المستحيل أن تحرص كل أمة على تلقين أبنائها جميع تراثهم بقضّه وقضيضه، وبما طرأ عليه من تغيرات بلغت حد التناقض، فى بعض العصور والتقلبات التاريخية، لذلك لابد من انتقاء (المدرسة) لعناصر التراث الفكرى والثقافى الذى يمكن تقديمه الى الجيل الحاضر ليكون عوناً له على وحدته النفسية وعوناً على وحدة الأمة التى يعيش فيها، وعلى التحقيق الخير لهذا المجتمع، وإبعاد الشرور والانحرافات عن أبنائه، وعن حياته وجميع مجالاته.
Kepedulian terhadap warisan intelektual dan kebudayaan adalah sesuatu yang sangat penting/ungen karenanya bisa mentransfer suatu pengalaman kepada kita yang sangat besar, selama kehidupan para generasi dan juga upayanya dalam menghasilkannya, dan warisan intelektual itu adalah buah dari kreativitas, peradaban dan penelitian ilmiah nenek moyang, akan tetapi besarnya warisan ini dan terhapusnya warisan yang lama bisa mengubah keadaan dan keyakinan, kepedulian akan pemikiran dan kebudayaan itu tidak memungkinkan terhadap setiap ummat untuk mengajarkan anak-anak mereka semua tentang warisan dengan memecahkan masalah-masalah kecil. Perubahan yang terjadi dengan tanpa disangka-sangka telah sampai pada batas kontradiksi dalam sebagian masa dan volatilitas sejarah, oleh karena itu lembaga sekolah haruslah digerakkan kepada unsur-unsur warisan intelektual dan kebudayaan yang dapat disampaikan terhadap generasi sekarang agar supaya membantu psikologis mereka dan juga membantu terhadap ummat dimana mereka hidup dan juga investasi yang baik terhadap masyarakat, dan menghapus kejahatan juga penyimpangan dari anak-anak mereka, dari kehidupannya dan juga dari segala bidang.
ولا بد لهذا (الانتقاء) من معاير ومقياس، ولا بد لهذا المقياس من هدف  بحققه وقد بينا هدف  التربية الاسلامية فى فصل سابق، وعلى ضوء هذا الهدف يمكننا أن نصنّف الأهداف التى تُبْتَغَى عند المحافظة على التراث كما يلى  :
Kriteria dan ukuran harus pada seleksi ini, dan tujuan penjelasannya haruslah sesuai dengan criteria ini. Kita telah menjelaskan tujuan pendidikan islam dalam bab terdahulu, atas dasar tujuan ini kita dapat mengklasifikasikan tujuan-tujuan yang dicari ketika menjaga dan mempertahankan warisan diantaranya sebagai berikut :
1)     يحافظ بعض الناس  على تراثهم الفكرى تعصبًا لآبائهم وأجدادهم وقد أقيم على هذا المبدأ اتجاه اجتماعي سياسي، سمي بالقومية، وهو تعصب كل قوم لما هم عليه، ولآبائهم ولحضارتهم، ولمصالحهم القومية، سواء كانوا على هدى أو فى ضلال، بل إن الهدى عند هؤلاء  هو المصلحة القومية، لذلك نجد أن ظواهر الاستعمار واستثمار خيرات الشعوب الضعيفة قد كانت  من نتائج هذا الاتجاه فى القرن التاسع عشر وأوائل القرن العشرين الميلادي، وقد نعى القرآن على هذا التعصب الأعمى للآباء فقال تعالى :
Sebagian manusia mempertahankan warisan intelektual dengan fanatic untuk bapak-bapaknya dan nenek-neneknya. Terhadap masayarakat social telah dibangun atas dasar dan prinsip ini yang dinamakan dengan nasionalisme, prinsip ini ditoleransikan terhadap setiap bangsa (umat), bapak-bapaknya, peradabannya dan kemaslahatan umat, baik mereka dapat petunjuk maupun tidak akan tetapi bagi mereka, petunjuk adalah kemaslahatan umat oleh karena itu  kita menemukan bahwa fenomena kolonialisme dan bertambahnya kebaikan bangsa-bangsa yang lemah adalah hasil dari  tren ini dalam abad ke-29  dan permulaan abad 20 M.  dan telah tertulis di al Qur’an atas kefanatikan yang buta ini atas bapak-bapak mereka. Allah berfirman :
( واذا قيل لهم اتبعوا ما انزال الله قالوا بل نتّبع ما الفينا عليه آبائنا أولو كان آباؤهم لا يعقلون شيئًا ولا يهتدون) [ البقرة :0 17]
Dan apabila dikatakan kepada merka, “ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk. (Q. S al Baqoroh : 170)
ويتلقف  يعض الناس ما توصلت إليه حضارة  الأقوام المتحضرة، سعيًا وراء المظاهر الحضارية البراقة،  وتحقيقا للرفاهية والتعاظم بالمال والقصور والرياش، وأملا فى تقليدهم والوصول الى ما وصلوا إليه من الغنى ةالترف وقد بيّن الإسلام ان هذا المقصد لا يستحق أن يكون هدفا لذاته، بل ربما كانت مظاهر التراف وسيلة لإغراء الكفار وزيادة تمسكهم بالدنيا وتماديهم فى الضلال وغرورهم، مما يزيد فى مسؤوليتهم وعذابهم، قال تعالى :
Sebagian manusia mengambil peradaban umat-umat masa kini dengan berjalan dibelakang fenomena peradaban yang cerah untuk mencapai kesejahteraan dan keagungan dengan harta benda, istana dan barang-barang mewah dengan harapan untuk meniru mereka yaitu kekayaan dan kemewahan yang telah sampai pada mereka. Islam telah menjelaskan bahwa tujuan ini tidak layak menjadi sasaran atau tujuan bagi dzatnya sendiri. Akan tetapi fenomena kemewahan adalah jalan /wasilah menuju kebangkitan kekufuran dan menambah keterikatan mereka terhadap dunia dan juga senang akan ketersesatan dan penipuan, menambah tanggung jawab dan menambah siksaan mereka. Allah berfirman :
( ولولا أن يكون الناس أمةً واحدة لجعلنا لِمن يكفر بالرحمن لبيوتهم سُقُفا من فضّةٍ ومَعارجَ عليها  يظهرون * ولبيوتهم أبوابا وسرُرا عليها يتّكئون * وزُخرفا وإنْ كلُّ ذلك لمّا متاع الحياة الدنيا والآخرة عند ربك للمتّقين *)
 [ الزخرف : 33 – 35]
Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), pastilah sudah kami buatkan bagi orang-orang kafir kepada (Allah) yang maha pengasih, loteng-loteng rumah mereka dari perak, demikian pula tangga-tangga yang mereka naiki. * Dan (kami buatkan pula) pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka, dan (begitu pula) dipan-dipan tempat mereka bersandar.(Q. S al Zuhruf : 33 – 35 )
وأما إذا كانت الغاية من الأخذ بأسباب الحضارة، الأخذ بميادئ القوة والتمكن فى الملك من أجل إقامة شعائر الإسلام  والدفاع عنه فهذا من أعظم المقاصد وأشرفها، فقال تعالى :
Akan tetapi jika tujuan diambil dengan sebab-sebab peradaban, dan pengambilan didasari dengan kekuatan penguasa demi menegakkan syiar islam dan mempertahankannya maka cara ini adalah tujuan yang paling besar dan paling mulia. Allah berfirman :
( أُذن للذين يقاتلون بأنهم ظُلموا وإن الله على نصرهم لقدير * الذين  أُخرجوا من ديارهم بغير حقّ إلا أنْ يقولوا ربُّنا الله ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لهُدّمت صوامع وبيع وصلوات ومساجد  يذكر فيها اسم الله كثيرا ولينصرنَّ الله مَن ينصره إن الله لقويّ عزيز * الذين إن مكّنّاهم فى الأرض أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور) [ الحج : 39 – 41]
 Diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka didzalimi. Dan sungguh, Allah maha kuasa menolong mereka itu. * (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampong halaman tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata “Tuhan kami adalah Allah” seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu Allah telah merobohkan biara-biara nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang yahudi dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah, Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh Allah maha kuat, maha perkasa. *  (yaitu) orang-orang yang jika kami beri kedudukan dibumi, mereka malaksanakan salatm menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar; dan kepada Allah lah kembali segala urusan.
أما إحياء العقيدة فى نفوس الأجيال : فهذا هو الهدف الأسمى للتربية الإسلامية وهو عمل أسمى من أن يوصف بأنه نقل التراث، إنه صون الفطرة التى فطر الله الناس عليها، وهي الاستعداد لتوحيد الله وللتعرف على عظمته  من تأمل مخلوقاته ولتحقيق ذلك زودنا الله بهذا (الإسلام) دين الله، ليكون دليلا ينير لنا الطريق لنسلكه للوصول الى هدفنا ( عبادة الله والعمل بشريعته)
Adapun kebangkitan keimanan/aqidah dalam jiwa para generasi : ini adalah tujuan akhir dari pendidikan islam, sebuah amal/karya yang unggul yang digambarkan sebagai (pengalihan warisan). Itu adalah bentuk naluri/fitroh manusia yang telah diciptakan Allah kepadanya. Fitroh itu disiapkan utuk mentauhidkan Allah dan mengakui kebesaranNya lewat tafakkur terhadap mahlukNya. Untuk mencapai hal ini Allah memberikan kita Islam sebagai Dinullah (agama Allah) agar islam menjadi bukti dan sebagai penerang jalan agar kita bisa sampai kepada tujuan kita yaitu (Ibadah terhadap Allah dan mengamalkan dengan syareatNya)
وقد وصف الرسول العلم والشريعة التى تركها  الأنبياء لمن بعدهم بأنها هى الميراث الذى ورّثوه للأمة، وأن الله حرم على الناس أن يرثوا من الأنبياء شيئا من المال أو المتاع، لأنهم ما أرسلوا لجمع المال، ولا للاغتناء، ولا ليورثوا ذرّيتهم المال.
Rosul telah menggambarkan ilmu pengetahuan dan syareat yang ditinggalkan oleh para Nabi untuk umat sesudahnya bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan yang diwariskan untuk umat. Allah mengharamkan pada manusia mewarisi harta benda dari para Nabi karena para Nabi tidak mewariskan semua hartanya dan kekayaannya dan juga para Nabi tidak mewariskan harta benda terhadap anak turunnya.
فالشريعة وتعاليم النبوة هى أعز ميراث يحيي فى النفس عقيدة التوحيد، ويربى الناشئين على الفطرة السليمة.
Maka syareat dan ajaran kenabian (aqidah tauhid) adalah warisan yang paling mulia yang hidup dalam jiwa dan mendidik para remaja kepada fitroh yang sehat/selamat.
ولذلك كان إغناء خبرات الناشئين بتعاليم الشريعة وعقيدة التوحيد، أول وظيفة وأهم مهمة تضطلع بها المدرسة فى نظر التربية الاسلامية.
Oleh karena itu, memperkaya pengalaman remaja dengan ajaran syareat dan aqidah tauhid merupakan tugas utama dan paling penting yang harus dilakukan oleh lembaga sekolah dalam pandangan pendidikan islam.
وكل  (تراث) آخر يجب أن يكون تبعا لهذا التراث الإلهى، الذى أورثه الله الذين اصطفى من عباده من الأنبياء وأتباعهم، حتى وصلتنا الشريعة المحمدية بيضاء نقية لنعمل بها ونحقق عباده وتوحيده.
Dan setiap heritage/warisan yang lain harus diikutkan dengan heritage ketuhanan, yang diwariskan Allah kepada hamba-hamba pilihan yaitu para nabi dan para pengikutnya sehingga syareat nabi Muhammad sampai kepada kita dengan bersih dan murni. Dan untuk mengamalkannya, kita dengan sejatinya melaksanakan ibadah terhadap Allah dan mentauhidkanNya
فعلوم الامم الأخرى وحضارتها : إنما نأخذ منها ما يمكننا فى الأرض ويعطينا أسباب القوة معانيها : القوة الإقتصادية، ةالقوة الإعلامية، والقوة التنظمية، لندفع عن عقيدتنا وأرضنا وديارنا ومساجدنا وأرواحنا وأعراضنا
Ilmu umat-umat yang lain dan peradabannya : akan tetapi apa yang kita dapat darinya memungkinkan kita didunia dan memberikan kita sebab-sebab kekuatan dengan segala maknanya : kekuatan perang, kekuatan ekonomi, kekuatan informatika dan kekuatan system/metode untuk menolak dari aqidah kita, bumi kita, rumah-rumah kita, masjid-masjid kita, jiwa-jiwa kita dan watak baik kita.
بهذا القصد نوسع خبرات النسء العلمية : الفيزيائية والكيميائية والفلكية والجوية والجغرافية والحسابية الرياضية وغيرها وغيرها
Dengan tujuan ini kita memperluas keahlian atau pengalaman ilmiah remaja : fisika, kimia, falak (astronomi), atmosfer (udara), geografi, hisab, matematika dan lain-lain.
لا بقصد التفاخر والتباهي والتكاثر والظهور بمظهر المتحضرين، الذين تضاعفت عندهم أعداد المتعلمين أضعافا مضاعفة فى ربع قرن من الزمن، أو انتشرت عندهم الثقافات العلمية وكثرت المخابر والكليات العلمية.
Tidak dengan tujuan membangga-banggakan, memperbanyak dan memperlihatkan dengan menampakkan peradapan sekarang yang dua kali lipat jumlah peserta didik dalam seperempat abad atau budaya ilmiah sudah tersebar bagi mereka dan banyak laboratorium-laboratorium dan akademi ilmiah.
إن الأمم لا تقاس بالعدد وإنما تكثر بالنصر وتقل بالخذلان، أى أنها تقاس بالنتائج التى تحققها فى مجالات النصر والتفوق الحربى والصناعى والمعنوى، تقاس بما غرست المدرسة فى نفوس أبنائها من الإيمان بالله والثقة بالنفس وطلب الموت فى سبيل إعلاء كلمة الله، ومن الوعي العلمي والثقافي المسلح بسلاح الإيمان. وعلوم اللغة العربية وآدابها، والتاريخ الإسلامي كل هذه المعارف والعلوم جزء من التراث الإسلامي لأنها ساعدت على فهم القرآن وحفظ الشريعة والعمل بها. لذلك يجب انتقاء ما يحقق هذا الهدف، من تلك العلوم  ، وترك الشوائب والانحرافات التى حصلت على هامش هذا التاريخ الإسلامي العتيد، فضخمها الذين يتبعون الشهوات ويريدون للمؤمنين أن يميلوا ميلا عظيما، وجعلوا يعرضون الخلافات والحروب الداخلية والأخبار الماجنة المنسوبة الى بعض الخلفاء والأمراء، وكأنها هي مقياس هذا التاريخ والأصل فيه، وغفلوا أو تغافلوا عن الهدف الأسمي الذي من أجله فتح أجدادنا الدنيا، وعن الإصلاحات الداخلية العظيمة التي قاموا بها وجعلوا معظم شواهد علوم اللغة، وتاريخها وآدابها تدور حول أمور الحياة والشهوات والمجون، وغفلوا عن شواهد القرآن وآدابه، وهو الذى حفظ الله به اللغة العربية من الضياع والانقسام والتفسخ وجمع شمل الأمة وكلمتها.
Sesungguhnya bangsa (umat-umat) itu tidak diukur dengan jumlah angka akan tetapi diukur dengan banyaknya kemenangan/pertolongan dan sedikitnya ketertinggalan/keterbelakangan, diukur dengan hasil yang dicapai dibidang keunggulan militer dan industry, diukur dengan seberapa besar lembaga sekolah menanamkan dalam jiwa anak-anak tentang keimanan kepada Allah, rasa percaya diri dan berani mati demi meninggikan kalimat Allah, dan diantara kesadaran ilmiah dan budaya yaiu yang dipersenjatai dengan  senjata iman, ilmu bahasa arab dan literaturnya serta sejarah islam. Dan segala ilmu pengetahuan ini adalah bagian dari warisan/heritage islam karena bisa membantu untuk memahami al Qur’an dan menjaga syareat dan mengamalkannya. Oleh karena itu seharusnya memilih untuk mencapai tujuan ini. Dari ilmu pengetahuan itu dan meninggalkan penyimpangan yang telah sampai pada sela-sela sejarah islam yang akan datang. Maka banyak orang-orang yang mengikuti keinginan /syahwat dan mereka menginginkan orang-orang mukmin untuk perpaling dari ajaran islam. Mereka menjadikan dan menampakkan perbedaan, perang internal dan berita-berita yang tidak valid yang ditujukan kepada kholifah dan para pemimpin, seakan-akan ini adalah ukuran sejarah dan asal mulanya. Mereka lupa dan mengabaikan tujuan luhur yang dirintis oleh nenek moyangnya didunia dan reformasi internal telah mereka lakukan dan mereka telah membuat bukti linguistic/bukti ilmu bahasa yang besar. Sejarah dan literaturnya berperan dalam sekitar masalah kehidupan, kesenangan dan pergaulan bebas, mereka lupa akan bukti al Qur’an dan tata karma al Qur’an yang berbahasa arab yang telah dijaga Allah dari kerusakan, fragmentasi, disintegrasi dan reunifikasi bangsa/umat.