Sabtu, 14 April 2012

MADRASAH SOLUSI CERDAS PENDIDIKAN KARAKTER


MADRASAH SOLUSI CERDAS
PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh : Amin Mahfudh Said[1]

Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya.[2] Pendidikan merupakan suatu yang integral dari kehidupan. Pendidikan berasal dari kata didik yang berarti memelihara dan membentuk  latihan, jadi pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[3] 
Dewasa ini pemerintah mengalakan pendidikan yang bercirikan dengan agama, atau yang sering disebut dengan pendidikan karakter. Pada dasarnya pendidikan karakter merupakan pola pendidikan umum yang didalamnya ada muatan mata pelajaran bernuansakan agama. Yang dengan cita-cita dapat membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan umum dan pengetahuan agama.
Dengan pengetahuan umum diharapkan anak didik mampu menghadapi kehidupan dunia, dan dengan pendidikan agama diharapkan kehidupan anak didik nantinya terarah, karena mempunyai tujuan yang pasti, yaitu bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Untuk mencapai kebahagiaan tersebut tentunya memerlukan komponen yang teramat penting yaitu kesadaran diri akan adanya pencipta dirinya dan pencipta alam semesta, yang akan berdampak pada kesadaran kepada adanya sang khalik yaitu yang disebut dengan Tuhan, dalam hal ini adalah Allah Swt. Dan kesadaran dan keyakinan akan adanya tuhan itu disebut dengan iman.
Persoalan kita ialah bagaimana kita menanamkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah, rasa nikmat beribadah (salat, puasa, dan lain-lain),rasa hormat pada kedua orang tua, dan sebagainya.[4]
MADRASAH
Kata madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran.[5] Dalam bahasa Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran.[6] Karenanya, istilah madrasah tidak hanya diartikan sekolah dalam arti sempit, tetapi juga bisa dimaknai rumah, istana, kuttab, perpustakaan, surau, masjid, dan lain-lain, bahkan seorang ibu juga bisa dikatakan madrasah pemula.[7]
Sistem madrasah ialah sekolah umum yang berciri khas Islam yaitu jenjang Ibtida’iyah-Tsanawiyah- Aliyah. Sekolah yang berciri khas Islam adalah sekolah umum yang Islami.[8] Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang penting di Indonesia selain pesantren. Keberadaannya begitu penting dalam menciptakan kader-kader bangsa yang berwawasan keislaman dan berjiwa nasionalisme yang tinggi. Salah satu kelebihan yang dimiliki madrasah adalah adanya integrasi ilmu umum dan ilmu agama[9] . Madrasah juga merupakan bagian penting dari lembaga pendidikan nasional di Indonesia. Madrasah mulai didirikan dan berkembang pada abad ke 5 H atau abad ke-10 atau ke-11 M. pada masa itu ajaran agama Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam mazhab atau pemikirannya. Pembagian bidang ilmu pengetahuan tersebut bukan saja meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan hadis, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.[10]
Di Indonesia madrasah bukanlah barang baru yang sebelumnya tidak ada, karena madrasah di Indonesia madrasah adalah sudah ada sejak jaman berdirinya lembaga pendidikan di Indonesia. Dimulai dari sistem pondok pesantren kemudian di masukan kedalam lembaga yang lebih formal yaitu madrasah. Bermula dari semangat pesantren itulah madrasah lahir, jadi., tidak menjadi barang yang aneh apabila madrasah pada prakteknya sedikit menyerupai dengan sistem dipondok pesantren walaupun dari wakru kewaktu tradisi tersebut semakin tergerus dengan tuntutan sistem pendidikan kekinian.
Dalam madrasah, tidak seperti halnya di pesantren dan surau, para siswa tidak saja diberi mata pelajaran yang berhubungan dengan masalah-masalah keagamaan, tapi juga mata pelajaran umum seperti bahasa Inggris dan Belanda dan ilmu-ilmu umum lain yang saat itu hanya diberikan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda.[11]



MADRASAH DAN TANTANGAN MASA DEPAN
Departemen Pendidikan Nasional, akan memberikan dampak luar bisa kepada perkembangan madrasah pada masa datang. Apalagi UU No.20/2003 telah menegaskan bahwa madrasah dalam banyak hal, seperti dalam hal kedududukan, status, dan kurikulum sama persis dengan sekolah umum, maka secara yuridis ide pendidikan satu atap ini sesungguhnya telah memiliki landasan hukum yang sangat kuat.
Dalam perkembangannya, madrasah yang tadinya hanya dipandang sebelah mata, secara perlahan-lahan telah berhasil mendapat perhatian dari masyarakat. Apresiasi ini menjadi modal besar bagi madrasah untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Dalam konteks kekinian, sekarang ini banyak sekali madrasah-madrasah yang menawarkan konsep pendidikan modern. Konsep ini tidak hanya menawarkan dan memberikan pelajaran atau pendidikan agama. Akan tetapi mengadaptasi mata pelajaran umum yang diterapkan di berbagai sekolah umum. Kemajuan madrasah tidak hanya terletak pada sdm-nya saja, namun juga desain kurikulum yang lebih canggih, dan sistem manajerial yang modern. Selain itu, perkembangan kemajuan madrasah juga didukung dengan sarana infrastruktur dan fasilitas yang memadai sesuai dengan kebutuhan kegiatan belajar-mengajar di madrasah.
Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang penting di Indonesia selain pesantren. Keberadaannya begitu penting dalam menciptakan kader-kader bangsa yang berwawasan keislaman dan berjiwa nasionalisme yang tinggi. Salah satu kelebihan yang dimiliki madrasah adalah adanya integrasi ilmu umum dan ilmu agama[12] .
Untuk menumbuh kembangkan Pendidikan Islam atau Ilmu pendidikan Islam perlu telaah lebih jauh lagi, mengintegrasikan pengembangan Ilmu dengan wanyu.[13] Pijakan awal berkenaan dengan pendidikan Islam adalah faktor yang secara eksplisit membedakan Ilmu Pendidikan Islam dengan ilmu-ilmu lainya ialah faktor nilai.[14]
Pendidikan yang berlandaskan ilmu-ilmu ke-Islam-an yang mampu mengsinerjikan berbagai disiplin ilmu yang menghasilkan kemajuan baik dibidang ilmu pengetahuan itu sendiri, sosial, budaya, politik dan masih banyak lagi kemajuan yang ditimbulkan. dan pendidikan yang demikian bisa didapatkan dalam lingkup madrasah.
 Ilmu pengetahuan berpijak dan terikat pada pemikiran rasional. itulah sebabnya secara populer agama bermula dari rasa tidak percaya. Akan tetapi, titik awalnya berbeda, tidaklah berarti antara Agama dan ilmu itu dalam posisi bertentangan.[15] Sedangkan Servius berpendapat, Agama sendiri mempunyai pengertian. Bahwa Religion (agama. ed) berarti ikatan atau hubungan yaitu hubungan antara manusia dengan dzat diatas manusia, yaitu Tuhan.[16]
Sejalan dengan itulah Islam memandang kegunaan dan peranan ilmu, sehingga tida membuat garis pemisah antara Agama dan ilmu. Agama adalah nilai-nilai panutan yang member pedoman pada tingkah laku manusia serta pandangan hidupnya; ilmu adalah suatu hasil yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuanya sebagai anugerah dari Allah yang maha pencipta.[17]
Dari pijakan ini marilah kita memasuki rumusan-rumusan nilai dalam pendidikan Islam itu, sehingga memiliki keunikan diantara pendidikan yang lain (sekular).[18]
Pertama, pemahaman tentang esensi bahwa manusia adalah mahluk monodualis, mahluk jasmani dan ruhani, maka pendidikan tidak dapat hanya bersifat antroposentris, akan tetapi juga harus bersifat theosentris. Pendidikan yang hanya mendasarkan pada materi saja, tentunya dalam pandangan Al Quran adalah suatu distorsi yang nyata, pendidikan dengan demikian tidak boleh hanya memandang pada manusianya saja, akan tetapi pada sangkan paraning dumadi.
Kedua,  bahwa manusia adalah mahluk yang berkembang dengan tahapan-tahapan, maka pendidikan mestilah sejalan dengan tahapan yang dilaluinya. Dan, dalam Al Quran tidak pernah kita menemukan satu pendidikan yang berhenti pada tataran tertentu.
Ketiga,  bahwa pendidikan dalam konsep Al Quran adalah memperhatikan nilai keseimbangan, antara jasmani/fisik dan ruhani (psikis). Pendidikan harus mampu secara bersama memenuhi basic need baik fisik maupun psikis.
Keempat, nilai pendidikan Islam, terletak pada keseimbangan antara aspek pemikiran dan perasaan. Pengembangan pemikiran saja akan mengantarkan manusia pada sikap rasionalistik dan materialistik. Kemampuan dalam menyeimbangkan pemikiran dan perasaan akan mengantarkan manusia pada kemampuan untuk hidup secara selaras baik dalam hubunganya dengan Tuhanya dengan sesama manusia, maupun alam lingkunganya.
Kelima, setelah keseimbangan antara pikir dan rasa dapat ditumbuh kembangkan, maka akan terbentuk dalam diri manusia itu keseimbangan antara dimensi kehambaan dan dimensi kekhalifahan.
Keenam, teori fitrah dalam Islam, menuntut adanya keseimbangan pandangan adanya faktor penentu arah pendidikan. Meskipun manusia memiliki fitrah keberagamaan sebagai suatu potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, akan tetapi orang tuanya (lingkungan/pendidikan) lebih menentukan wujud akhir keberagamaan anak.
Pendidikan Islam dengan pokok pelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan umum dan pengetahuan agama seperti dipaparkan diatas, semua itu terwakili dalam pendidikan dalam bentuk madrasah, baik mulai jenjang madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah Dan aliyah. Yang merupakan represntasi dari integrasi pendidikan dalam teori maupun prakteknya.
Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam buku filsafat pendidikan islami. Bahwa madrasah merupakan model pendidikan umum terbaik, karena dalam madrasah sistem pendidikanya mengintegrasikan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama, yang sejalan dengan pendidikan karakter yang digalakan pemerintah dewasa ini.
Dengan pengetahuan umum dan pengetahuan agama diharapkan madrasah mampu memberikan calon generasi penerus bangsa yang berkarakter islami, yang akan menjadi khalifah dimuka bumi dan memakmurkan bumi, dalam artian mampu bahagia di dunia, serta mempunyai tujuan hidup yang pasti yaitu bahwasanya mempunyai kesadaran akan adanya tuhan dan kepercayaan akan adanya kehidupan setelah hidup didunia sebagai pertangung jawaban dari kehidupan dari hasil yang dikerjakan didunia.
Madrasah diharapkan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang mampu memberikan generasi bangsa yang ahli ilmu ( ilmuan ), dan ilmuan yang beragama yang kuat ( ulama ). Dengan kata lain mampu mencetak generasi bangsa yang ilmuan yang ulama dan ulama yang ilmuan Dan berahlak mulia.
Dengan banyaknya generasi bangsa yang berahlak mulia, akan menjadikan mereka pemimpin masa depan yang akan memberikan progress pada bangsa dan Negara, mengapa demikian dengan dasar agama yang kuat akan sangat mungkin menghindarkan dari praktek korupsi yang selama ini menjadi momok yang sangat membahayakan kesehatan bangsa dan Negara.
Selain itu juga madrasah sekarang ini banyak dilengkapi dengan sistem teknologi yang informasi yang akan berdampak pada madrasah yang semula mempunyai stigma sebagai lembaga yang terpingirkan akan menjadi lembaga pandidikan yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainya. Bersaing dalam artian lembaga pendidikan itu sendiri maupun lulusannya.
Wallahu a’lam bisowaf.











DAFTAR PUSTAKA

Assegaf, Abd. Rachman, 2011. Filsafat Pendidikan Islam, paradigma baru pendidikan hadhari berbasis integratif interkonektif, Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Hasbullah, 2001. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Nata, Abuddin, 2004. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Noor, Deliar, 1991. Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900-1942  Jakarta : LP3ES.
Poerwadarminta, W.J.S. 1984., Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka.
Romdon, 1995. Tasawuf dan Aliran kebatinan, Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UNY Press.
suwito, 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana.
Tafsir, Ahmad, 1998. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
____________, 2010. Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
____________, 2010. Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Thoha, Chabib, dkk. 1996. Refolmulasi Filsafat Pendidikan Islam, (yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arief Subhan; 2005 dikutip dari Http://Izaskia.Wordpress.Com/2009/08/28/Madrasah-Menanti-Fajar-Menyingsing-Bag-3/#More-401  (down loud, hari kamis. 16 pebruari 2012. 14.18)



[1] Orang kecil yang belajar menulis, yang tulisanya tak kunjung bermutu.
[2] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1998), hlm. 6.
[3] Sugihartono, dkk. Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2007), hlm. 3.
[4] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2010), hlm. 136.
[5]Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 50.
[6] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 889.
[7] suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2005). Hlm .214.
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2010), hlm. 184
[9] Arief Subhan; 2005 dikutip dari Http://Izaskia.Wordpress.Com/2009/08/28/Madrasah-Menanti-Fajar-Menyingsing-Bag-3/#More-401  (down loud, hari kamis. 16 pebruari 2012. 14.18)
[10] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 161
[11] Deliar Noor, gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900-1942 (Jakarta : LP3ES, 1991) h. 50-51.
[12] Arief Subhan; 2005 dikutip dari Http : // Izaskia. Wordpress. Com / 2009 / 08 / 28 / Madrasah-Menanti-Fajar-Menyingsing-Bag-3/#More-401  (down loud, hari kamis. 16 pebruari 2012. 14.18).
[13] ChabibThoha, dkk. Refolmulasi Filsafat Pendidikan Islam, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm, 193.
[14] Achmadi, Dalam Chabib Thoha, dkk. Ibid., hlm, 289.
[15] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, paradigma baru pendidikan hadhari berbasis integratif interkonektif, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2011), hlm. 2.
[16] Romdon, Tasawuf dan Aliran kebatinan, (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1995), hlm. 2.
[17] Abd. Rachman Assegaf, Op.Cit., hlm. 89.
[18] Achmadi, Dalam Chabib Thoha, dkk., hlm, 289-290.

0 komentar:

Poskan Komentar